Saturday, April 29, 2006
Demi sayang pacar, gue harus membuat postingan tentang mimpi-mimpi gue
1. Pengen jadi delivery man
Gue pengen banget jadi tukang nganterin makanan ke rumah-rumah. Siapa tau diangkat jadi menantu sama yang punya anak cantik.
2. Punya perusahaan sendiri
Kalau yang ini sedang dirintis. Lagi bikin proposal buat morotin penyandang dana. Doain ya biar sukses. Kalau sukses loe boleh deh ngelamar kerja diperusahan gue.
3. Jadi polisi
Gue punya mimpi buat jadi polisi, terutama polisi lalu-lintas. Gue seneng banget liat polisi yang berdiri di pinggir jalan ngatur lalu-lintas. Kayaknya dia keren banget gitu, dengan satu tangan bisa berhentiin puluhan bahkan ratusan mobil. Keren kan?!
4. Punya VW Caravelle
Nah..ini mimpi yang paling muluk. Mungkin gak ya ada orang tiba-tiba ngasih gue mobil ini? Gak usah yang tahun terakhir deh, yang bekas KTT Non Blok juga ok, dijamin gak ditolak.
5. Pacaran sama pacar gue yang sekarang
Dari dulu gue pengen pacaran ama dia, tapi gak berani. Boro-boro pacaran, ngomong aja segen. Baru pas kuliah gue berani ngomong ama dia. Eh..bisa pacaran juga ternyata.
Berhubung disuruhnya cuma lima, jadi lima aja yang ditulis. Padahal masih banyak yang lain.
Sekarang gue lempar ke: dewe, cipluk ama chia ya!
posted by Nico @ 2:37 PM ~ |
tindakan pengecut
Mengusir Inul dari Jakarta gara-gara dia menolak RUU APP...
Itu tindakan orang hebat? TIDAK!! Sama sekali tidak!! Buat gue itu tindakan paling pengecut yang bisa dilakukan orang atau sekelompok orang. Kalau memang hebat, kenapa beraninya mendatangi orang-orang yang gak punya massa? Kenapa nggak langsung mendatangi Gus Dur aja yang jelas-jelas bilang RUU itu RUU sampah dan isterinya juga ikut dalam aksi menolak RUU itu? Kenapa harus Inul dan teman-temannya yang didatangi terlebih dahulu? Bukankah Gus Dur justru punya pengaruh yang lebih besar dibanding Inul and friends?
Dari hal ini saja sudah bisa dilihat bahwa tindakan itu tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang bego yang kalau naik motor helmnya dipake di dengkul (soalnya otaknya udah pindah ke dengkul). Bagi orang atau simpatisan ormas ini jangan marah ya kalau di bilang sebagai orang bego. Lihat aja semua tindak tanduk ormas loe itu gak ada yang dilakukan secara cerdas, semua dilakukan dengan kekuatan otot bukan otak. Orang yang cerdas akan memperjuangkan keinginannya dengan otak bukan otot. Hanya orang di Republik Barbar yang masih setia dengan ototnya.
Gue cuma mau bilang, kalau mau bertindak itu yang cerdas biar nggak dihina dan diketawain sama orang lain. Perjuangan yang menggunakan otak akan lebih mendapat simpati dan kemungkinan untuk berhasil lebih besar. Jadi mulailah untuk berjuang secara cerdas dan menjadi bangsa cerdas.
posted by Nico @ 2:12 PM ~ |
Sunday, April 16, 2006
Salah bila dikau mencintaiku
Simpan saja rasa sayang mu itu
Bukannya aku tak suka
Ku telah ada yang punya
Dan hatiku tak mampu untuk mendua
Salah bila dikau mengharapkanku
Tutup saja pintu hati mu itu
Bukannya aku tak suka
Ku telah ada yang punya
Dan hatiku tak mampu untuk mendua
Bukan maksud hati tuk lukai mu
Dengan ku berkata sejujurnya
Kuharap dikau mengerti padaku
Dan hatiku tak mampu untuk mendua
(Sebuah lagu dari Naif)
posted by Nico @ 3:15 PM ~ |
Saturday, April 15, 2006
Karena dipaksa pacar melihat profile seseorang di friendster, gue jadi mendapat ide untuk menulis. Oknum yang profilenya gue liat di fs itu adalah seseorang yang gemar tebar pesona di dunia maya. Hampir di setiap situs yang berkaitan dengan orang per orang, oknum ini selalu meninggalkan bekas. Bekas yang ditinggalkan itu entah testimonial, shout out atau comment tak penting.
Gue jadi teringat komentar teman gue mengenai orang seperti oknum ini. Komentarnya adalah: punya teman kok virtual! Gue tertawa sangat puas atas komentar itu. Bagi gue yang namanya berteman itu di dunia nyata, bukan di dunia maya. Namun karena dunia ini demokratis, maka gue harus menghargai pilihan oknum itu untuk berteman secara virtual. Mungkin kemampuan dia untuk berelasi baru sebatas virtual. Dunia maya tidak boleh lebih penting di banding dunia nyata, sebab kita hidup di dunia nyata. Dunia maya hanya dijadikan pelengkap dunia nyata, bukan sebaliknya. Apa yang terjadi di dunia maya belum tentu dapat terwujud di dunia nyata. Oleh karena itu, cobalah untuk membangun relasi sosial secara nyata, bukan virtual!
Jika apa yang gue lakukan sekarang dikatakan membangun relasi sosial secara virtual, gue mengakuinya. Tetapi gue menolak jika dikatakan dunia maya lebih menjadi prioritas bagi gue dibanding dunia nyata. Gue akan lebih senang memiliki 1 teman yang wujudnya nyata, di banding 1000 teman tetapi virtual.
posted by Nico @ 3:25 PM ~ |
Friday, April 14, 2006
Iseng ke kampus mengakibatkan gue mengobrol sesuatu yang tidak jelas, yaitu poligami dan poliandri.
Obrolan ini bermula ketika seorang teman mengatakan bahwa film Berbagi Suami adalah film yang bagus. Dia berkata, mengapa poligami lazim dilakukan sementara poliandri agak sungkan bahkan hampir sulit untuk dilakukan. Sebagai calon sarjana sosial, kami harus melihat hal ini dari kacamata sosial. Poligami mudah dilakukan sementara poliandri sulit dilakukan adalah sebuah bentukan sosial. Keadaan masyarakat yang patriarkhi, membuat dominasi laki-laki terhadap perempuan begitu terasa termasuk untuk urusan pernikahan. Laki-laki merasa berkuasa untuk memperlakukan isterinya sedemikian rupa, bahkan hingga berbagi ranjang. Karena ini semua hanya bentukan sosial, maka hal ini bisa didekonstruksi untuk kemudian dikonstruksikan ulang atau direkonstruksi dengan nilai yang baru.
Nah...sekarang masalah poliandri. Mengapa poliandri sulit dilakukan? Jika dikatakan sebagai seting sosial juga, ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar. Banyak hal lain disamping faktor sosial yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah pengakuan terhadap ayah dari anak yang dilahirkan. Dalam poligami akan jelas siapa ayahnya dan siapa ibunya. Dalam poliandri yang jelas hanya ibunya, sedangkan ayahnya tidak jelas. Ini akan menyulitkan dalam kehidupan si anak kelak. Dalam akta kelahirannya nama ayahnya siapa? Bapak A, B, C? Tidak mungkin kan. Kemudian, jika terjadi perceraian siapa yang akan bertanggung jawab? Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang menyulitkan itulah yang menyebabkan poliandri lebih sulit dilakukan dibanding poligami (jangan lupakan faktor nilai sosialnya!).
Yang lebih penting adalah pesan yang disampaikan dalam film Berbagi Suami tersebut
"POLIGAMI ATAU POLIANDRI HANYA AKAN MENIMBULKAN MASALAH!"
Satu hal lagi, poligami dan poliandri hanya akan merugikan perempuan sebab "bekasnya" akan tinggal di dalam diri seorang perempuan.
posted by Nico @ 10:09 PM ~ |
Thursday, April 06, 2006
Kapan skripsi mau selesai kalau harus diubah terus?! Apa bapak itu tidak tahu kalau biaya nge-print ama kertasnya mahal? Dia bilang skripsi harus selesai paling lama dua semester, tapi kalau kayak gini selesainya bisa dua tahun. Gue ngerti, mungkin dia pengen yang terbaik buat skripsi gue, tapi kalau dirubah terus kapan majunya? Bukannya jadi baik malah jadi rusak.
Satu hal yang gue sebelin, dia gak pernah konsisten ama kerangka pemikiran yang dia kasih. Minggu ini pengen kerangka pemikiran ini, minggu depan berubah jadi kerangka pemikiran lain. Hebat...hebat...!!
Buat para senior ku yang telah melewati fase hidup ini, gue mau tanya, sebenarnya skripsi itu dikerjakan sesuai dengan yang kita mau atau sesuai sama yang dosen mau?
Untuk teman-teman ku seperjuangan, selamat jika kalian telah melangkah ketahap selanjutnya, bagi yang masih terganjal seperti saya kita harus tetap punya satu bab sebagai pegangan, yaitu "BAB NIAT". Selama bab itu masih dikandung badan, skripsi atau TKA kita pasti selesai.
posted by Nico @ 6:37 PM ~ |